Society Culture Zone

Masyarakat Rawa, Linggawangi, Singaparna, Tasikmalaya

            Masyarakat Rawa, Linggawangi, Kecamatan Lewisari Singaparna Tasikmalaya merupakan daerah pedesaan yang kaya akan sumber daya alam. Daerah yang terletak tepat di bawah Gunung Galunggung ini terbagi kepada empat, kepunduhan, dusun. Diantaranya, dusun Bolodog, dusun Kalieung, dusun Sindang Raja dan dusun Parigi. Pembagian kepunduhan menjadikan daerah ini terbagi ke 19 RT dan 5 RW. Kecenderungan masyarakat pedesaan terhadap alam memang sudah menjadi hal yang biasa. Hal yang sama dirasakan oleh masyarakat Rawa, Linggawangi kecamatan Lewisari, Singaparna Tasikmalaya. Sebagai masyarakat desa, kabanyakan dari mereka bertumpu pada tanah garapan, seperti pertanian, perkebunan dan lain sebagainya.
            Masyarakat desa Rawa Linggawangi sendiri merupakan masyarakat religius. Tercatat ada beberapa Pesantren yang dijadikan sebagai sarana belajar sebagian masyarakat Linggawangi. Pesantren yang dibarengi dengan balai pendidikan sudah tak asing lagi bagi warga Linggawangi. Pesantren-pesantren yang ada di Linggwangi sendiri termasuk Pesantren tertua di Tasikmalaya. Bahkan ada salah satu Pesantren yang telah menghasilkan ulama-ulama terkenal Tasikmalaya, seperti KH. Khaer Affandi (Manonjaya), KH. Zaenal Mustofa (Sukamanah), KH. Ruhiyat (Cipasung) dan ulama lainnya seperti pada tahun 1930 sendiri adalah tahun dimana KH. Taufiq Ali mulai belajar di bangku sekolah Tsanawiah. Ada kemungkinan sekolah tersebut sudah berdiri jauh hari sebelum tahun 1930an. KH. Taufiq Ali sendiri lahir pada tahun 1922. KH. Ruhiat merupakan salah satu alumnus sekolah Cilenga. Gurunya yang bernama KH. Sobandi selalu mengajarkan tentang Teologi Islam dan beberapa jenis bahasa Arab. Selain di Cilenga dia juga belajar di Pesantren-pesantren lainnya. Rasihan Anwar dan Andi Bahruddin Malik, ed. Ulama dalam Penyebaran Pendidikan dan Khazanah Keagamaan. Sebelum tahun 1930 sendiri warga setempat sudah bisa belajar di madrasah Tsanawiah di daerah Cilenga, Cicurug yang dipimpin oleh KH. Iping Zaenal Abidin. Tokoh kharismatik seperti KH. Iping Z. Abidin sendiri memiliki peran dalam mengembangkan lembaga pendidikan di daerah Rawa. Bahkan pada tahun 1935 di dirikan Panti Asuhan di sekitar balai pendidikan. Dari sekolah inilah kelak banyak melahirkan ulama-ulama besar, baik Muhammadiyah maupun non Muhammadiyah. Di antara alumnus sekolah ini yang nantinya aktif di persyarikatan Muhammadiyah adalah KH. E. Nurul Ain, KH. Taufik Ali Daud, Ajengan Masluh, KH. Tajudin, Ustad Omo Suyatna dan lain sebagainya.
Adapun kedekatan masyarakat Rawa, Linggawangi dengan persyarikatan Muhammadiyah sudah terjalin relatif lama. Kalau dilihat berdasarkan pengaruh luar (Eksteren) itu terjadi sekitar tahun 1946, di mana ada orang-orang Rawa yang mencari nafkah di Bandung. Mereka berdagang matrial kayu. Mereka selalu disebut pedagang Kencana. Sebelum tahun 1940-an mereka menerima ajaran Muhammadiyah, karena sering pulang ke Rawa desa Linggawangi, jadi dari situ mulai ada pengaruhnya. Di samping itu, paham atau ajaran Muhammadiyah sudah mulai berkembang di Kabupaten Tasikmalaya pada tahun 1936 oleh Mr. Soetama (Garut). Akan tetapi kalau dilihat dari dalam (interen) pengraruh paham Muhammadiyah itu sendiri sudah ada. Terbukti dengan adanya sekolah dan Panti Asuhan di daerah Cilenga, Cicurug Rawa Hillir. Lewat bimbingan KH. Iping Z. Abidin sendiri yang terkenal sebagai ulama Muhammadiyah, di samping KH. Hambali Ahmad, para santri mulai mendapatkan pemahaman tentang Muhammadiyah. Bahkan tercatat pada tahun 1945 sendiri sudah ada sembilan orang yang masuk Muhammadiyah, yaitu : Aki Iji, Prawirasasanita, Ehob, H. Lukman, Pak Haekin, H. Basuni, Ekon dan yang lainnya. Dari keterangan tersebut terlihat bahwa persyarikatan Muhammadiyah relatif lebih cocok dengan pola keberagamaan masyarakat Linggawangi. Hal ini dikarenakan badan pendidikan pesantren yang ada di sana lebih bersifat terbuka dan cenderung menghargai akal (rasional). Oleh karena itu, ketika persyarikatan Muhammadiyah datang ke daerah tersebut antusias masyarakat dalam menyambut persyarikatan ini sangat lebih. Berbeda dengan daerah-daerah lain yang memandang bahwa ajaran KH.Ahmad Dahlan itu, merupakan ajaran baru bahkan ada juga yang menganggapnya sebagai ajaran kafir.

            Hal yang sama juga berlaku bagi komunitas pedagang Kancana Saparakanca yang berasal dari Tasikmalaya. Pedagang yang sukses menjalankan bisnis matrial tersebut merupakan pedagang yang berasal dari daerah pedesaan, tepatnya daerah Rawa, kampung Linggawangi, Singaparna, Tasikmalaya. Kebiasaan melancong atau berniaga sudah menjadi kebiasaan masyarakat Linggawangi, Rawa. Situasi seperti inilah yang mengilhami salah satu komunitas asal Rawa untuk berniaga ke kota Bandung. Kancana Saparakanca sendiri adalah, laqob, sebutan yang diberikan masyarakat Rawa terhadap komunitas pedagang tersebut. Istilah Kancana Saparakanca sendiri berasal dari bahasa sunda yang mempunyai arti komunitas sekeluarga. Laqob ini diberikan karena seluruh komunitas pedagang Kancana semunya adalah saudara, kakak beradik. Mereka adalah H. Zaenudin, H. Syahdiyah, Hj. Omo, pak Hambali dan H. Badrudin. Kelima saudara ini adalah barisan, reng-rengan, keluarga besar Kancana sekaligus keturunan dari H. Salam. Akan tetapi, pada perjalannya Pak Hambali lebih memilih dunia pendidikan sebagai masa depannya. Hal ini dikarenakan dia sebagai seorang staf pengajar di daerah Rawa. Sehingga dia lebih memilih tinggal di Rawa dan tidak mengikuti saudara-saudaranya yang tinggal di Bandung. Jika diruntut secara genologi kekeluargaan, pedagang Kancana Saparakanca ini mempunyai kedekatan dengan beberapa ulama terkemuka asal Rawa, seperti KH. Iping Zaenal Abidin, KH. Hambali Ahmad dan KH. E.Z. Mutaqin. Ketiga ulama terkemuka tersebut merupakan bagian dari keluarga Kancana Saparakanca.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pernah Menjadi Warga Desa Singkir: Catatan KKN yang Saya Baca Kembali Setelah 11 Tahun

Tempat Wisata Terkenal di Asia Tenggara: Destinasi yang Wajib Dikunjungi

Dari Antropologi ke Pendidikan: Perjalanan Menulis Skripsi hingga Menjadi Artikel Jurnal