Dari Antropologi ke Pendidikan: Perjalanan Menulis Skripsi hingga Menjadi Artikel Jurnal

Ada masa dalam hidup saya ketika saya harus menentukan sebuah pertanyaan yang cukup penting: tentang topik skripsi apa yang akan saya tulis untuk memperoleh gelar Sarjana Antropologi?

Sebagai mahasiswa antropologi, saya terbiasa melihat manusia, kebudayaan, dan kehidupan sosial dari berbagai sudut. Tetapi ketika harus menentukan topik penelitian untuk skripsi, saya ingin memilih sesuatu yang tidak hanya menarik secara akademik, tetapi juga dekat dengan kehidupan manusia yang saya temui sehari-hari.

Pada saat itu, perhatian saya tertuju pada sekolah.

Saya mulai bertanya-tanya, bagaimana anak-anak yang tumbuh dengan latar belakang budaya yang berbeda belajar hidup bersama? Bagaimana sebuah sekolah membentuk karakter mereka agar mampu menghargai perbedaan? Dan yang tidak kalah menarik bagi saya, bagaimana nilai-nilai seperti toleransi tidak hanya diajarkan melalui buku atau nasihat, tetapi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari siswa?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian membawa saya ke sebuah sekolah dasar multikultur dan dwibahasa di Kota Bandung.

Saya datang ke sekolah tersebut bukan sebagai guru, melainkan sebagai mahasiswa antropologi yang sedang melakukan penelitian untuk menyelesaikan skripsi dan memperoleh gelar Sarjana Antropologi.

Saya mengamati kegiatan belajar mengajar, berbicara dengan guru, berinteraksi dengan siswa, mengikuti berbagai kegiatan sekolah, dan mencoba memahami bagaimana sebuah sekolah dengan siswa dari latar belakang budaya yang beragam membangun karakter toleransi.

Pada akhirnya, penelitian tersebut saya tuangkan dalam skripsi dan kemudian saya kembangkan menjadi sebuah artikel ilmiah berjudul “Strategi Pembentukan Karakter Toleransi pada Siswa Sekolah Dasar Multikultur dan Dwibahasa SD Pribadi di Kota Bandung.”

Tulisan tersebut kemudian diterbitkan dalam UMBARA: Indonesian Journal of Anthropology pada tahun 2018.

Namun, ketika saya membaca kembali penelitian itu bertahun-tahun kemudian, saya merasa bahwa ada banyak hal yang dulu saya lihat sebagai seorang mahasiswa antropologi, tetapi baru saya pahami lebih dalam setelah saya sendiri menjadi seorang guru.

Dan mungkin, di situlah menariknya membaca kembali sebuah penelitian lama.

Kita tidak hanya mengingat apa yang pernah kita tulis.

Kita juga bisa melihat siapa diri kita ketika menulisnya, dan siapa diri kita setelah bertahun-tahun berlalu.

Tulisan ini dikembangkan dari penelitian saya untuk memeroleh gelar Sarjana Program Studi Antropologi, FISIP Universitas Padjadjaran. Penelitian tersebut kemudian diterbitkan dalam UMBARA: Indonesian Journal of Anthropology, Volume 3 Nomor 2, Desember 2018, dengan judul “Strategi Pembentukan Karakter Toleransi pada Siswa Sekolah Dasar Multikultur dan Dwibahasa SD Pribadi di Kota Bandung.”

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan wawancara, pengamatan terlibat, dokumentasi, dan studi pustaka.

Ketika keberagaman hadir di dalam satu kelas

Sekolah yang saya teliti memiliki siswa dengan latar belakang yang cukup beragam.

Saya menemukan siswa dengan latar belakang etnis Sunda, Jawa, Manado, Bali, Betawi, Melayu, Kyrgyzstan, Minang, Batak, Aceh, Bugis, serta berbagai latar belakang campuran. Di dalam satu ruang kelas, anak-anak dengan pengalaman budaya yang berbeda belajar bersama.

Keberagaman seperti ini tentu merupakan kekayaan.

Tetapi keberagaman juga memiliki tantangan.

Anak-anak tidak selalu langsung memahami perbedaan.

Dalam penelitian saya, saya menemukan bahwa perselisihan antarsiswa masih terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan beberapa konflik dapat berujung pada tangisan atau kontak fisik. Di sisi lain, terdapat pula siswa dengan kebutuhan khusus, termasuk siswa dengan ADHD atau hiperaktif.

Dari sini saya mulai memahami satu hal:

Mengajarkan toleransi kepada anak tidak cukup hanya dengan mengatakan, “Kita harus menghargai perbedaan.”

Anak perlu mengalami perbedaan itu sendiri.

Mereka perlu berinteraksi.

Mereka perlu bekerja sama.

Mereka perlu mengalami konflik.

Dan kemudian mereka perlu belajar bagaimana menyelesaikan konflik tersebut.

Toleransi ternyata bukan hanya sebuah pelajaran

Dalam penelitian tersebut saya menggunakan perspektif antropologi.

Saya melihat sekolah sebagai salah satu tempat berlangsungnya sosialisasi dan enkulturasi.

Istilahnya memang terdengar akademis.

Tetapi sebenarnya gagasannya sederhana.

Anak belajar bagaimana menjadi bagian dari masyarakat melalui interaksi dengan orang lain.

Mereka belajar bagaimana berbicara.

Bagaimana menghormati orang lain.

Bagaimana bekerja sama.

Bagaimana menghadapi perbedaan.

Dan bagaimana memahami nilai-nilai yang berlaku di lingkungan mereka.

Proses tersebut tidak hanya berlangsung ketika guru mengatakan:

“Hari ini kita belajar tentang toleransi.”

Justru sering kali proses tersebut terjadi tanpa disadari.

Ketika guru meminta siswa bekerja dalam kelompok.

Ketika seorang anak harus berbagi peran dengan temannya.

Ketika seorang siswa harus mendengarkan pendapat orang lain.

Ketika mereka berbeda pendapat.

Bahkan ketika mereka bertengkar dan kemudian harus berdamai.

Di situlah pendidikan karakter berlangsung.

Ada satu pelajaran khusus tentang Rehberlik

Salah satu hal yang paling menarik perhatian saya ketika melakukan penelitian adalah mata pelajaran Rehberlik, atau guidance.

Istilah tersebut berasal dari bahasa Turki yang berarti bimbingan. Di sekolah yang saya teliti, Rehberlik menjadi salah satu ruang khusus untuk membantu membentuk karakter siswa. Materinya tidak hanya berbicara tentang benar dan salah, tetapi juga menyentuh kejujuran, amanah, rendah hati, toleransi, cinta damai, kerja sama, disiplin, tanggung jawab, kesantunan, percaya diri, kreativitas, hingga kepemimpinan.

Tetapi ada satu hal yang menurut saya jauh lebih menarik daripada daftar materi tersebut.

Rehberlik tidak selalu berlangsung dalam suasana kelas yang kaku.

Dalam beberapa kegiatan, guru sengaja menciptakan suasana yang lebih santai dengan duduk bersama dan makan bersama siswa.

Makanannya pun bukan sesuatu yang rumit.

Kadang hanya makanan ringan.

Kadang pizza.

Kadang minuman yang memang menjadi kesukaan anak-anak.

Guru memesankan makanan, kemudian mereka duduk bersama.

Tidak ada meja guru yang harus selalu terpisah dari meja siswa.

Tidak ada suasana seperti guru sedang memberikan ceramah dari depan kelas.

Mereka makan.

Berbicara.

Bercerita.

Bercanda.

Dan dari percakapan-percakapan sederhana itulah hubungan antara guru dan siswa menjadi lebih dekat.

Bagi saya, pengalaman ini menarik jika dilihat dari sudut pandang antropologi.

Duduk bersama membuat kita lebih mudah memahami orang lain

Dalam antropologi, saya belajar bahwa manusia tidak dapat benar-benar dipahami hanya dari apa yang ia katakan secara formal.

Kita perlu melihat bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain.

Bagaimana ia berbicara.

Apa yang membuatnya tertawa.

Apa yang membuatnya merasa nyaman.

Bagaimana ia merespons orang lain.

Dan sering kali, hal-hal tersebut lebih mudah terlihat ketika hubungan antarorang tidak terlalu formal.

Salah satu cara paling sederhana untuk mengurangi jarak itu adalah duduk bersama.

Ketika dua orang duduk berhadapan dan berbicara, hubungan mereka mulai berubah.

Apalagi ketika mereka makan bersama.

Makanan menjadi semacam jembatan sosial.

Guru tidak lagi hanya hadir sebagai orang yang memberikan aturan.

Siswa juga tidak hanya hadir sebagai orang yang harus mematuhi aturan.

Mereka menjadi manusia yang sedang berbagi ruang, waktu, makanan, dan percakapan.

Di situlah mungkin toleransi mulai tumbuh dalam bentuknya yang paling sederhana.

“Kalau ingin masuk ke hati seseorang, jangan datang ketika ia sedang lapar”

Ada satu pemikiran sederhana yang sering terlintas ketika saya mengingat pengalaman tersebut:

Kalau ingin berbicara dengan seseorang, jangan biarkan ia dalam keadaan lapar.

Kalimat ini tentu bukan teori antropologi yang harus dianggap sebagai hukum ilmiah.

Saya memahaminya sebagai ungkapan sederhana tentang hubungan manusia.

Orang yang lapar mungkin lebih sibuk memikirkan rasa lapar daripada mendengarkan orang lain.

Tetapi ketika kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi, suasana bisa menjadi lebih tenang.

Perut kenyang.

Duduk bersama.

Ada makanan di tengah-tengah.

Ada minuman.

Kemudian percakapan dimulai.

Dari percakapan itulah kita mulai mengenal seseorang.

Apa yang ia sukai.

Apa yang ia takutkan.

Apa yang membuatnya senang.

Apa yang sedang ia pikirkan.

Dan mungkin, bagi seorang guru, informasi seperti itu jauh lebih berharga daripada sekadar mengetahui nilai ujian seorang siswa.

Makanan sebagai jalan menuju percakapan

Saya kemudian melihat kegiatan makan bersama dalam Rehberlik bukan sekadar “guru mentraktir siswa.”

Ada strategi pendidikan yang menurut saya sangat menarik di dalamnya.

Guru menciptakan sebuah ruang sosial.

Anak-anak merasa lebih santai.

Jarak antara guru dan siswa menjadi lebih cair.

Percakapan yang mungkin sulit terjadi ketika guru berdiri di depan kelas dapat muncul ketika mereka duduk bersama.

Seorang anak mungkin tidak mau mengangkat tangan dan mengatakan:

“Bu, saya sedang punya masalah dengan teman saya.”

Tetapi ketika sedang duduk santai sambil makan, cerita itu bisa muncul begitu saja.

Bukan karena guru bertanya secara formal.

Tetapi karena situasinya memungkinkan anak untuk berbicara.

Di sinilah saya melihat bahwa pendidikan karakter terkadang tidak membutuhkan metode yang rumit.

Kadang-kadang yang dibutuhkan adalah: duduk bersama, makan bersama, dan berbicara bersama.

Dari meja makan menuju pemahaman

Ada sesuatu yang menarik dari makan bersama.

Ketika kita makan bersama, kita tidak hanya berbagi makanan.

Kita berbagi waktu.

Kita berbagi cerita.

Kita belajar kebiasaan orang lain.

Kita melihat bagaimana orang lain makan.

Kita mengetahui makanan yang mereka sukai.

Kita tertawa pada hal-hal yang sederhana.

Dan tanpa disadari, kita sedang membangun kedekatan sosial.

Mungkin karena itu dalam banyak masyarakat, makan bersama memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi kebutuhan biologis.

Makan bersama dapat menjadi sebuah peristiwa sosial.

Dan bagi saya, inilah salah satu bagian paling menarik dari pengalaman penelitian tersebut.

Saya datang sebagai mahasiswa antropologi untuk melihat bagaimana sekolah membentuk karakter toleransi.

Tetapi saya justru menemukan bahwa salah satu jalan menuju toleransi bisa dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana:

duduk bersama orang yang berbeda, makan bersama, lalu saling berbicara.

Anak-anak belajar melalui pengalaman

Salah satu metode yang menarik bagi saya adalah role playing atau bermain peran.

Anak-anak diberi kesempatan untuk memainkan situasi tertentu.

Mengapa cara ini menarik?

Karena anak tidak hanya mendengar penjelasan tentang toleransi.

Mereka merasakan sebuah situasi dari sudut pandang tertentu.

Dalam penelitian saya, metode bermain peran digunakan antara lain untuk mengajarkan kejujuran, kedisiplinan, sopan santun, dan menghargai perbedaan. Guru memilih metode tersebut karena siswa dapat merasakan langsung berbagai peran yang mereka mainkan.

Di sinilah saya melihat hubungan antara teori pendidikan karakter dan praktik di kelas.

Nilai tidak berhenti menjadi pengetahuan.

Nilai dicoba.

Dipraktikkan.

Kemudian diulang.

Dan perlahan menjadi kebiasaan.

Bahkan pelajaran Bahasa Inggris digunakan untuk membentuk karakter

Hal lain yang menarik adalah bagaimana pendidikan karakter tidak dipisahkan dari pelajaran akademik.

Bahasa Inggris, misalnya, memiliki porsi waktu yang cukup besar. Pembelajaran menggunakan kurikulum Cambridge dan proses belajar berlangsung dalam Bahasa Inggris.

Tetapi di dalam proses pembelajaran tersebut tetap terdapat pendidikan karakter.

Guru membiasakan siswa berdoa sebelum belajar.

Ada sistem penghargaan dan konsekuensi terhadap perilaku siswa.

Siswa diberi kesempatan berbicara dengan teman.

Ada guru yang menggunakan cerita berbahasa Inggris dengan pesan moral.

Ketika terjadi konflik antarsiswa, guru memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk mengajarkan ketertiban, saling menghormati, dan menghargai perbedaan.

Ini membuat saya berpikir:

Apakah pendidikan karakter memang harus selalu menjadi mata pelajaran tersendiri?

Mungkin tidak.

Karakter dapat dibangun melalui hampir semua aktivitas pendidikan.

Belajar toleransi melalui pertunjukan

Di luar kelas, sekolah memiliki berbagai kegiatan.

Salah satunya adalah Assembly Performance, yaitu pertunjukan drama yang dimainkan siswa menggunakan Bahasa Inggris.

Bagi saya, kegiatan seperti ini menarik jika dilihat dari perspektif antropologi.

Seorang siswa mungkin mendapatkan peran utama.

Siswa lain mungkin mendapatkan peran pendukung.

Ada yang menjadi penari.

Ada yang membantu di belakang layar.

Tidak semua anak memiliki kemampuan yang sama.

Tetapi pertunjukan hanya dapat berjalan apabila semua orang menjalankan perannya.

Dengan demikian, anak belajar sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana:

Saya berbeda dengan kamu, tetapi kita tetap bisa bekerja bersama.

Bukankah itu inti dari toleransi?

Morning Line: pendidikan karakter sebelum pelajaran dimulai

Ada pula kegiatan yang disebut Morning Line.

Setiap pagi, siswa dan guru berkumpul sebelum memulai aktivitas belajar. Kegiatannya tidak hanya berisi pengumuman, tetapi juga apresiasi, lagu nasional, cerita keagamaan, cerita berbahasa Inggris, kegiatan menjaga lingkungan, hingga pengenalan budaya Sunda.

Pada hari tertentu, siswa dan guru bahkan mengenakan pakaian adat Sunda dan menyanyikan kawih atau pupuh Sunda dalam kegiatan Rebo Nyunda.

Saya melihat sesuatu yang menarik di sini.

Sekolah tersebut memiliki siswa dengan latar belakang budaya yang sangat beragam.

Tetapi mereka tidak kehilangan konteks lokal tempat mereka berada.

Keberagaman dan identitas lokal tidak harus dipertentangkan.

Seorang anak bisa belajar menggunakan Bahasa Inggris, bertemu teman dari latar belakang budaya berbeda, sekaligus mengenal budaya Sunda.

Karakter tidak berhenti di dalam sekolah

Pendidikan karakter juga terlihat dalam kegiatan sosial.

Ada program Pribadi Berbagi, misalnya.

Dana yang dikumpulkan dari kegiatan infaq digunakan untuk memberikan bantuan kepada siswa lain yang membutuhkan, termasuk bantuan perlengkapan sekolah. Siswa juga dilibatkan secara langsung dalam kegiatan pemberian bantuan tersebut.

Ada pula Charity Days.

Siswa, guru, dan orang tua bekerja sama mengadakan kegiatan amal. Dalam salah satu kegiatan, orang tua menyumbangkan makanan yang kemudian dijual oleh siswa dan guru untuk mengumpulkan dana sosial.

Bagi saya, ini penting.

Anak tidak hanya diberi tahu:

“Kita harus peduli kepada orang lain.”

Mereka diajak melakukan sesuatu.

Karena pada akhirnya, karakter bukan hanya sesuatu yang kita ketahui, tetapi sesuatu yang kita lakukan.

Setelah menjadi guru, saya semakin memahami penelitian ini

Ada hal yang baru saya sadari setelah bertahun-tahun berlalu.

Ketika menulis penelitian tersebut, saya melihat sekolah sebagai seorang antropolog.

Saya mengamati.

Mencatat.

Mewawancarai.

Menganalisis.

Saya mencoba memahami bagaimana kebudayaan toleransi dibentuk melalui kegiatan pendidikan.

Sekarang, ketika saya menjadi guru, saya justru berada di sisi yang berbeda.

Saya berada di dalam kelas.

Saya berhadapan dengan siswa.

Saya melihat bagaimana sebuah konflik muncul.

Saya melihat bagaimana siswa bereaksi.

Dan saya mulai memahami bahwa membangun karakter jauh lebih sulit daripada menuliskannya dalam sebuah penelitian.

Guru dapat menjelaskan tentang toleransi selama satu jam.

Tetapi satu tindakan guru mungkin justru lebih banyak mengajarkan toleransi daripada satu jam penjelasan.

Cara guru berbicara.

Cara guru memperlakukan siswa.

Cara guru menyelesaikan konflik.

Cara guru memperlakukan siswa yang berbeda kemampuan.

Semuanya adalah pendidikan.

Guru bukan hanya mengajarkan karakter

Dalam penelitian saya dulu, saya menuliskan bahwa guru memiliki peran penting sebagai model dan teladan bagi siswa, terutama ketika menghadapi keberagaman budaya di dalam kelas.

Sekarang saya membaca kalimat itu dengan perspektif yang berbeda.

Saya tidak lagi melihatnya hanya sebagai teori.

Saya mengalaminya.

Seorang guru bisa mengajarkan toleransi melalui materi pelajaran.

Tetapi siswa juga belajar toleransi dari bagaimana guru memperlakukan teman mereka.

Seorang guru bisa mengajarkan kesantunan.

Tetapi siswa akan melihat apakah gurunya sendiri berbicara dengan santun.

Seorang guru bisa mengajarkan keadilan.

Tetapi siswa juga memperhatikan apakah guru memperlakukan semua siswa dengan adil.

Pada titik ini saya teringat gagasan Ki Hajar Dewantara:

Ing ngarso sung tulodo.

Di depan memberikan teladan.

Mungkin inilah salah satu tantangan terbesar menjadi guru.

Sebelum meminta siswa menjadi manusia yang baik, kita harus terlebih dahulu berusaha menjadi teladan bagi mereka.

Sebelas tahun setelah KKN, saya kembali belajar tentang hal yang sama

Menariknya, pengalaman KKN saya di Desa Singkir dan penelitian saya tentang sekolah multikultur sebenarnya memiliki benang merah.

Di Desa Singkir saya belajar bahwa masyarakat memiliki kebudayaannya sendiri.

Di sekolah saya belajar bahwa siswa datang dengan latar belakang budaya yang berbeda.

Dalam keduanya, saya melihat satu hal:

Manusia selalu membawa latar belakangnya ketika berinteraksi dengan orang lain.

Kita membawa keluarga.

Bahasa.

Kebiasaan.

Nilai.

Agama.

Pengalaman.

Lingkungan.

Semuanya ikut membentuk cara kita melihat dunia.

Karena itu, pendidikan tidak pernah benar-benar hanya tentang buku pelajaran.

Pendidikan adalah proses belajar menjadi manusia di tengah manusia lainnya.

Mungkin inilah salah satu alasan mengapa saya masih merasa bahwa ilmu antropologi sangat dekat dengan dunia pendidikan.

Antropologi mengajarkan saya untuk melihat manusia sebelum memberikan penilaian.

Dan menjadi guru mengajarkan saya bahwa setiap anak adalah manusia dengan cerita yang berbeda.

Apa yang akhirnya saya pelajari?

Jika harus diringkas, penelitian yang saya lakukan bertahun-tahun lalu menghasilkan satu kesimpulan penting.

Toleransi tidak cukup diajarkan sebagai teori.

Ia perlu dibangun melalui kebiasaan.

Melalui interaksi.

Melalui pengalaman.

Melalui teladan.

Melalui kegiatan di dalam kelas maupun di luar kelas.

Penelitian saya menemukan bahwa sekolah tersebut membangun karakter toleransi melalui dua jalur utama: kegiatan pembelajaran di dalam kelas dan kegiatan di luar kelas. Rehberlik, Bahasa Inggris, dan Tematik menjadi bagian dari strategi di dalam kelas, sedangkan kegiatan seperti Assembly Performance, Night Performance, Morning Line, Pribadi Berbagi, Charity Days, dan Field Trip menjadi bagian dari pembelajaran di luar kelas.

Namun bagi saya sekarang, ada satu kesimpulan yang lebih sederhana.

Anak belajar menjadi toleran ketika mereka diberi kesempatan untuk hidup bersama perbedaan.

Dan tugas guru bukan menghilangkan perbedaan tersebut.

Melainkan membantu anak belajar bagaimana hidup di dalamnya.

Penutup

Ketika penelitian ini selesai dan akhirnya diterbitkan pada 2018, saya mungkin hanya melihatnya sebagai salah satu karya akademik yang pernah saya kerjakan sebagai mahasiswa antropologi.

Hari ini saya melihatnya sedikit berbeda.

Penelitian itu ternyata menjadi salah satu bagian dari perjalanan saya menjadi guru.

Dulu saya meneliti bagaimana sekolah membentuk karakter toleransi.

Sekarang saya berada di dalam sekolah dan ikut menjadi bagian dari proses tersebut.

Dulu saya mengamati guru.

Sekarang saya menjadi guru yang juga harus terus belajar.

Dan mungkin, setelah bertahun-tahun, saya semakin memahami bahwa pendidikan karakter bukanlah pekerjaan yang selesai setelah satu mata pelajaran, satu semester, atau satu tahun ajaran.

Ia adalah proses yang berlangsung terus-menerus.

Pada guru.

Pada siswa.

Pada keluarga.

Dan pada masyarakat.

Karena pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat anak belajar menjadi pintar.

Sekolah adalah salah satu tempat mereka belajar menjadi manusia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pernah Menjadi Warga Desa Singkir: Catatan KKN yang Saya Baca Kembali Setelah 11 Tahun

Tempat Wisata Terkenal di Asia Tenggara: Destinasi yang Wajib Dikunjungi

Control and Conflict in the Upland