Sebelas tahun lalu, saya pernah menjadi warga Desa Singkir. Bukan dalam arti memiliki rumah, sawah, atau kartu identitas di sana. Saya datang sebagai mahasiswa Universitas Padjadjaran yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa KKNM-PPMD pada awal 2015.
Bersama 20 orang teman satu kelompok, saya meninggalkan Jatinangor menuju Desa Singkir, Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya. Perjalanan menuju desa itu tidak sebentar. Kami berangkat sekitar pukul tujuh pagi dan harus melewati jalan yang kecil dan berkelok-kelok sebelum akhirnya tiba beberapa jam kemudian. Sesampainya di sana, kami menuju kantor desa untuk melaporkan kedatangan dan mendapatkan pengarahan mengenai kegiatan KKNM-PPMD.
Saat itu saya belum tahu bahwa beberapa minggu di desa tersebut kelak akan menjadi salah satu pengalaman yang masih saya ingat bertahun-tahun kemudian. Lebih dari itu, saya tidak menyangka bahwa sebelas tahun setelahnya saya justru akan menemukan kembali tulisan yang pernah saya buat tentang Desa Singkir dan membacanya dengan perasaan yang berbeda.
Datang untuk Belajar, Bukan untuk Mengubah
Ada satu kalimat dalam tulisan saya tahun 2015 yang sekarang terasa semakin relevan. KKNM Unpad ketika itu mengusung semangat “Belajar dari Masyarakat” atau to learn. Berbeda dengan pendekatan KKN yang sebelumnya lebih banyak menekankan semangat to change, mahasiswa didorong untuk belajar dari kehidupan masyarakat: kebiasaan, aktivitas sehari-hari, adat istiadat, sekaligus melihat berbagai persoalan dan potensi yang ada di desa.
Saat masih mahasiswa, saya mungkin belum sepenuhnya memahami makna gagasan tersebut. Saya datang dengan kepala yang penuh dengan gagasan tentang apa yang seharusnya dilakukan masyarakat. Saya melihat persoalan, kemudian berpikir tentang solusi. Melihat potensi, kemudian membayangkan bagaimana potensi tersebut bisa dikembangkan.
Sekarang, ketika membaca tulisan itu kembali setelah sebelas tahun, saya justru menyadari bahwa belajar dari masyarakat ternyata jauh lebih sulit daripada memberikan solusi kepada masyarakat. Memberikan solusi membuat kita merasa memiliki jawaban. Belajar membuat kita harus bersedia mengakui bahwa mungkin kita belum memahami persoalan sepenuhnya.
Singkir dan Kesan Pertama yang Saya Bawa Pulang.
Desa Singkir terdiri dari beberapa kampung, di antaranya Singkir I, Singkir II, Desakolot, Ciheulang, dan Jadimulya. Ada sebuah cerita yang saya dengar ketika berada di sana mengenai asal-usul nama Singkir. Menurut cerita yang disampaikan oleh sesepuh setempat, kawasan tersebut dahulu kerap menjadi tempat pengungsian ketika terjadi bencana atau kerusuhan di wilayah sekitar. Istilah panyingkiran, atau tempat untuk menyingkir dan berlindung, kemudian dikaitkan dengan nama Singkir. Entah bagaimana cerita tersebut berkembang dari generasi ke generasi, tetapi bagi saya saat itu cerita semacam ini justru membuat sebuah tempat terasa memiliki identitas.
Desa bukan hanya kumpulan rumah, jalan, sawah, dan fasilitas umum. Di dalamnya ada cerita, ada ingatan, ada pengalaman yang diwariskan oleh masyarakatnya. Dan salah satu hal yang paling saya ingat dari Singkir bukanlah data tentang luas wilayah atau jumlah penduduknya, melainkan keramahan masyarakatnya.
Someah yang Tidak Tertulis di Buku.
Saya masih mengingat bagaimana masyarakat di sekitar tempat kami tinggal menerima kehadiran mahasiswa. Mereka ramah kepada kami. Bahkan tetangga-tetangga di sekitar pondokan beberapa kali mengirimkan makanan.
Dalam tulisan saya sebelas tahun lalu, saya menyebut masyarakat Singkir masih memegang nilai Sunda berupa someah dan santun. Saat itu mungkin saya menganggapnya sebagai bagian kecil dari pengalaman KKN. Sekarang saya justru melihatnya sebagai salah satu bagian paling penting. Sebab keramahan tidak selalu hadir dalam bentuk sesuatu yang besar. Kadang ia hadir dalam sepiring makanan yang dikirim tetangga, dalam sapaan ketika kita melewati rumah seseorang, dalam kesediaan menerima orang asing yang tiba-tiba tinggal beberapa minggu di lingkungan mereka.
Kami datang sebagai mahasiswa dari luar desa, Tetapi perlahan-lahan setidaknya untuk beberapa waktu, kami diperlakukan seperti bagian dari kehidupan mereka. Dan mungkin di situlah sebenarnya proses belajar dari masyarakat dimulai.
Ketika sawah bukan sekadar sawah
Setelah melakukan orientasi selama sekitar dua pekan, saya mulai melihat sesuatu yang menurut saya sangat penting: Desa Singkir memiliki potensi pertanian yang besar. Dalam tulisan tahun 2015, saya mencatat luas persawahan sekitar 193 hektare berdasarkan data sensus Juni 2013 yang tercantum dalam dokumen kami. Saya juga mencatat banyaknya petani pemilik sawah dan buruh tani. Bagi saya yang ketika itu masih mahasiswa, angka-angka tersebut terasa besar. Saya melihat sawah bukan hanya sebagai tempat orang menanam padi. Saya melihatnya sebagai kemungkinan. Bagaimana jika potensi tersebut dikelola dengan lebih baik?, Bagaimana jika hasil pertanian tidak berhenti sebagai bahan mentah?, Bagaimana jika masyarakat bisa mendapatkan nilai ekonomi yang lebih besar dari apa yang sudah mereka miliki?. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus muncul dalam pikiran saya.
Selain sawah, ada pula pohon kelapa yang mudah dijumpai di Singkir. Dari kelapa tersebut masyarakat membuat gulampo, makanan yang saya catat sebagai salah satu makanan khas Singkir. Saat itu gulampo masih banyak dibuat secara rumahan dan hanya sebagian kecil yang dijual ke warung-warung. Saya melihat kemungkinan bahwa makanan tersebut suatu hari bisa dikembangkan menjadi produk khas desa dan oleh-oleh.
Hari ini, ketika membaca kembali bagian tersebut, saya tersenyum. Ternyata sejak mahasiswa saya sudah cukup tertarik pada satu pertanyaan sederhana: Bagaimana sesuatu yang sudah dimiliki masyarakat dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai lebih?
Saya Melihat Satu Persoalan lain: Pemuda.
Namun semakin lama berada di Singkir, perhatian saya kemudian bergeser. Bukan hanya soal pertanian, bukan hanya soal ekonomi. Saya mulai memperhatikan kehidupan pemuda di desa.
Dalam tulisan asli saya, saya menyebut salah satu persoalan yang saya lihat adalah kurang aktifnya Karang Taruna dan kegiatan kepemudaan. Saya melihat pemuda sebagai kelompok yang seharusnya bisa menjadi penggerak kegiatan di desa.
Saya bahkan menuliskan kekhawatiran bahwa jika generasi muda tidak mulai mengambil peran, berbagai kegiatan yang selama ini dijalankan oleh generasi yang lebih tua akan sulit diteruskan. Pemikiran itu kemudian menjadi dasar dari jawaban saya atas tema “Jika Saya Menjadi Masyarakat di Desa Singkir.” Saya tidak memilih membayangkan diri sebagai kepala desa, tidak pula sebagai pengusaha. Saya memilih menjadi masyarakat biasa. Dan dari posisi itu, saya membayangkan apa yang bisa saya lakukan.
Jika Saya Menjadi Warga Desa Singkir
Saya membayangkan sebuah Karang Taruna yang kembali aktif. Bukan sekadar organisasi yang memiliki nama dan struktur kepengurusan, tetapi organisasi yang benar-benar menjadi ruang bagi pemuda untuk berkegiatan.
Saya membayangkan adanya pengajian muda-mudi, kegiatan bersama antarkampung, olahraga, outbound, dan berbagai aktivitas yang dapat mempererat hubungan pemuda di Desa Singkir. Saya juga membayangkan pemuda tidak hanya berkegiatan untuk mengisi waktu luang, tetapi mulai terlibat dalam potensi yang dimiliki desanya. Pertanian, Perkebunan., Pengolahan hasil bumi, Kewirausahaan. Bahkan saya sempat membayangkan bagaimana hasil padi dan kelapa bisa dikelola bersama, termasuk menghidupkan kembali koperasi desa.
Dalam pikiran saya yang masih muda saat itu, pemuda harus menjadi motor penggerak. Mereka harus mengambil estafet dari generasi sebelumnya. Mereka harus mencintai kampung halamannya. Dan mereka harus ikut memastikan bahwa potensi desa tidak berhenti menjadi potensi.
Sebelas Tahun Kemudian, Saya Membaca Tulisan itu dengan Cara Berbeda
Di sinilah membaca kembali tulisan lama menjadi menarik. Saya masih menyukai gagasan saya tentang pentingnya pemuda. Saya masih percaya bahwa sebuah desa membutuhkan generasi muda yang mau terlibat.Saya juga masih percaya bahwa potensi alam tidak akan otomatis menjadi kekuatan ekonomi tanpa adanya manusia yang mau mengelolanya. Tetapi ada bagian dari tulisan saya yang sekarang ingin saya koreksi.
Dulu saya menulis dengan keyakinan bahwa pemuda di Singkir “tidak ada semangatnya” dan seolah-olah mereka hanya pasif. Hari ini saya tidak akan dengan mudah mengatakan hal yang sama. Sebab saya menyadari bahwa apa yang saya lihat selama beberapa minggu belum tentu menggambarkan keseluruhan kehidupan sebuah masyarakat.
Saya datang sebagai mahasiswa, saya tinggal hanya dalam waktu terbatas., saya mengamati dari posisi sebagai orang luar. Apa yang saya lihat adalah sebagian kecil dari kehidupan masyarakat yang jauh lebih kompleks. Bisa jadi pemuda yang terlihat tidak aktif dalam kegiatan Karang Taruna bukan berarti tidak memiliki kepedulian terhadap desanya. Bisa jadi mereka memiliki kesibukan lain, bisa jadi mereka bekerja, bisa jadi ada persoalan organisasi yang tidak saya pahami, atau mungkin memang ada persoalan kepemudaan yang perlu dibenahi. Saya tidak tahu.
Dan justru di situlah saya merasa bahwa sebelas tahun kemudian saya belajar sesuatu yang dulu belum saya pahami: mengamati masyarakat membutuhkan kerendahan hati.
Kita perlu membedakan antara apa yang benar-benar kita ketahui dan apa yang hanya kita simpulkan dari pengamatan yang terbatas.
Dulu Saya Mencari Masalah. Sekarang Saya lebih Tertarik Mencari Manusia.
Sebagai mahasiswa, saya merasa perlu menemukan masalah. Ada masalah, berarti ada solusi. Ada potensi, berarti harus dikembangkan. Cara berpikir seperti itu mungkin wajar, tetapi kehidupan masyarakat tidak sesederhana itu.
Sebuah desa bukan proyek. Masyarakat bukan objek yang menunggu kedatangan mahasiswa untuk diperbaiki. Dan mahasiswa bukan orang yang datang membawa semua jawaban. Justru masyarakat memiliki pengetahuan yang tidak selalu dimiliki oleh orang yang datang dari luar. Mereka tahu kapan sawah harus ditanami, mereka tahu bagaimana hubungan antarwarga bekerja, mereka tahu siapa yang bisa diajak bekerja sama, mereka tahu sejarah kampungnya, mereka tahu tradisi yang mungkin tidak tertulis di buku mana pun. Kami mungkin datang membawa teori, tetapi mereka menjalani kehidupan nyata.
Tentang Pertanian yang Pernah Saya Khawatirkan
Dalam tulisan lama saya, saya cukup banyak membicarakan pertanian. Saya melihat persoalan akses, modal, sarana prasarana, dan pengelolaan hasil pertanian. Saya bahkan membayangkan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) sebagai salah satu pendekatan yang dapat membantu masyarakat mengoptimalkan pekarangan rumah untuk tanaman pangan.
Bagi saya saat itu, pengembangan pertanian adalah salah satu jalan agar Desa Singkir bisa berkembang. Saya masih menyukai gagasan tersebut. Namun sekarang saya akan menambahkan satu hal: mengembangkan pertanian tidak cukup hanya dengan meminta masyarakat menjadi lebih produktif. Ada persoalan modal, ada akses pasar, ada teknologi, ada rantai distribusi, ada harga, ada regenerasi petani, ada kebijakan. Dan tentu saja ada keputusan masyarakat sendiri tentang bagaimana mereka ingin menjalani kehidupannya. Itulah sesuatu yang belum terlalu saya pahami ketika menulis pada 2015.
Saya melihat potensi. Tetapi belum sepenuhnya memahami kompleksitas yang membuat sebuah potensi sulit berkembang.
Yang Ternyata paling Berharga dari KKN bukan Programnya
Ketika masih mahasiswa, mungkin kita sering berpikir bahwa keberhasilan KKN diukur dari program yang berhasil dijalankan. Berapa kegiatan yang terlaksana?, Berapa warga yang ikut?, Apa yang bisa ditinggalkan?, Apa yang berhasil diperbaiki?.
Tetapi sebelas tahun kemudian saya justru merasa bahwa sesuatu yang paling berharga dari KKN tidak selalu bisa dimasukkan ke dalam laporan. Ia berupa pengalaman, berupa percakapan, berupa perjalanan panjang menuju desa, berupa makan Bersama, berupa sapaan warga, berupa cerita tentang asal-usul sebuah kampung, berupa pemandangan sawah ketika kita berjalan pulang, berupa perasaan ketika untuk beberapa minggu kita hidup jauh dari rutinitas kampus. Dan mungkin juga berupa kesadaran bahwa dunia ternyata jauh lebih luas daripada ruang kelas.
Saya Pernah Menjadi warga Desa Singkir
Tentu saya bukan benar-benar warga Singkir. Saya hanya tinggal di sana selama masa KKN. Tetapi selama beberapa minggu itu, saya pernah merasakan sedikit bagaimana rasanya menjadi bagian dari sebuah komunitas. Kami bangun di lingkungan yang sama, berinteraksi dengan tetangga, makan makanan yang diberikan warga, mendengarkan cerita mereka, mengamati aktivitas mereka, dan mencoba memahami kehidupan yang mungkin sangat berbeda dari kehidupan kami sebagai mahasiswa di Jatinangor.
Karena itu, ketika menemukan kembali tulisan ini sebelas tahun kemudian, saya tidak hanya sedang membaca catatan tentang sebuah desa. Saya sedang membaca catatan tentang diri saya sendiri ketika masih menjadi mahasiswa. Seorang anak muda yang melihat banyak hal dengan penuh keyakinan. Yang ingin memperbaiki banyak hal, yang percaya bahwa pemuda bisa menjadi motor perubahan, yang melihat sawah dan kelapa sebagai potensi besar, yang membayangkan Karang Taruna bisa menjadi penggerak desa. Dan yang mungkin saat itu belum cukup memahami bahwa masyarakat tidak pernah sesederhana yang terlihat dari luar.
Sebelas Tahun Berlalu
Saya tidak tahu bagaimana Desa Singkir berubah selama sebelas tahun terakhir. Saya juga tidak ingin berpura-pura mengetahui kondisi Singkir hari ini hanya berdasarkan tulisan yang saya buat pada 2015. Tulisan ini bukan laporan tentang Desa Singkir pada 2026. Ini adalah potret Desa Singkir yang tersimpan dalam ingatan saya, berdasarkan pengalaman beberapa minggu ketika saya pernah tinggal di sana sebagai mahasiswa. Mungkin desanya sudah banyak berubah, mungkin beberapa persoalan yang dulu saya lihat sudah terselesaikan, mungkin ada persoalan baru yang muncul, mungkin Karang Taruna sudah kembali aktif, mungkin gulampo sudah semakin dikenal, mungkin pula tidak banyak yang berubah. Saya tidak tahu. Dan mungkin suatu hari saya perlu kembali ke sana untuk mengetahui jawabannya.
Yang Berubah Ternyata Bukan hanya Desa, Tetapi juga Saya
Sebelas tahun adalah waktu yang cukup panjang. Saya yang menulis tulisan tersebut pada 2015 tentu bukan orang yang sama dengan saya yang membacanya sekarang.
Dulu saya datang ke Desa Singkir untuk belajar dari masyarakat. Hari ini, ketika membaca kembali catatan tersebut, saya sadar bahwa proses belajarnya ternyata belum selesai. Saya belajar bahwa potensi tidak selalu berarti sesuatu yang mudah dikembangkan. Saya belajar bahwa masyarakat tidak bisa dinilai hanya dari apa yang terlihat dalam beberapa minggu.
Saya belajar bahwa menjadi orang luar membuat kita memiliki keterbatasan dalam memahami kehidupan orang lain. Dan saya belajar bahwa niat baik sekalipun tetap membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan.
Mungkin itulah makna to learn yang baru saya pahami bertahun-tahun kemudian.
Belajar bukan hanya tentang mendapatkan pengetahuan baru. Kadang belajar berarti menyadari bahwa keyakinan kita sendiri perlu diperiksa kembali.
Catatan yang Belum Selesai
Kalau suatu hari saya kembali ke Desa Singkir, mungkin saya tidak akan datang dengan daftar program seperti yang saya bayangkan pada 2015. Saya mungkin akan datang dengan pertanyaan yang lebih sederhana. Bagaimana kabar kalian?Bagaimana kabar para tetangga yang dulu sering mengirim makanan? Bagaimana kehidupan para pemuda yang dulu saya lihat dari kacamata seorang mahasiswa? Bagaimana sawah-sawah yang dulu membuat saya membayangkan masa depan pertanian Singkir? Apakah gulampo masih dibuat? Dan bagaimana Desa Singkir hari ini memandang dirinya sendiri? Mungkin saya akan lebih banyak mendengarkan.
Sebab setelah sebelas tahun, saya akhirnya memahami bahwa menjadi bagian dari Masyarakat meskipun hanya untuk sementara, bukan berarti kita harus selalu datang membawa jawaban. Kadang, cukup dengan hadir, melihat, mendengar, menghargai. Dan membiarkan sebuah tempat mengajarkan sesuatu kepada kita.
Saya Pernah Menjadi warga Desa Singkir
Hanya untuk beberapa minggu. Tetapi rupanya, beberapa minggu itu cukup untuk meninggalkan sebuah cerita yang sebelas tahun kemudian masih ingin saya baca kembali.
Dan mungkin, tulisan ini bukan akhir dari cerita tersebut. Mungkin ini hanya tanda bahwa suatu hari nanti, saya perlu kembali.
Banda Aceh, 16 Agustus 2026 02.32
Komentar
Posting Komentar