Halo teman-teman pembaca setia Asep Muhaemin Blog! 👋
Kembali lagi bersama saya, Kang Asep. Kalau di postingan sebelumnya kita sempat mengulas tentang sejarah "Sintesis Mistik" dan ritus budaya Jawa
Pernahkah kamu menyadari satu fenomena unik dalam politik Indonesia: Masyarakat kita mayoritas Muslim, budaya Islamnya sangat kuat dan mengakar, tetapi dalam Pemilu, partai politik berbasis Islam justru jarang keluar sebagai pemenang utama
Bahkan lebih uniknya lagi, meskipun partai pemenang pemilu sering kali adalah partai nasionalis, calon pemimpin mulai dari Presiden, Gubernur, hingga Bupati, hampir selalu diupayakan sosok yang Muslim
Kenapa bisa begitu? Mari kita bedah fenomena "Sintesis Sosial" ini dari kacamata antropologi politik
Dari "Sintesis Mistik" Menuju "Sintesis Sosial"
Kalau kita menengok sejarah yang ditulis oleh Ricklefs, masyarakat Jawa dulu mengalami Sintesis Mistik
Namun, dosen dan cendekiawan Islam Budhi Munawar-Rachman menyebutkan bahwa sintesis di Indonesia hari ini telah bergeser dan berkembang pesat
Di era modern, keislaman dan keindonesiaan kita tidak lagi diuji lewat hal-hal gaib atau mistis semata, melainkan lewat bagaimana nilai-nilai keagamaan berinteraksi dengan sistem politik demokrasi
Islam Kultural Menguat, Tapi Kenapa Partai Islam Tidak Dominan?
Ini dia pertanyaan menarik yang sering muncul di ruang diskusi antropologi politik
Berdasarkan analisis dan catatan kuliah saya dulu, ada dua alasan utama dibalik fenomena ini
1. Pergeseran Kepercayaan dan Isu Sosial
Dalam sistem demokrasi, masyarakat tidak lagi memilih partai hanya karena "label" keagamaan semata
Sebaliknya, masyarakat sering kali menemukan nilai-nilai Islami seperti keadilan, kejujuran, dan perhatian pada rakyat kecil, pada sosok tokoh yang diusung oleh partai nasionalis
2. Islam sebagai Kultur, Demokrasi sebagai Sistem
Secara kultural, masyarakat Indonesia sangat memegang teguh nilai Islam
Fenomena "Islamisasi Kekuasaan" di Partai Nasionalis
Hal menarik lainnya dari Sintesis Sosial ini adalah timbulnya proses "Islamisasi Kekuasaan"
Saking kuatnya nilai Islam kultural di akar rumput, partai politik nasionalis sekalipun akhirnya harus menyesuaikan diri dengan selera dan budaya masyarakat
Partai nasionalis tetap akan mengusung figur pemimpin beragama Islam agar bisa diterima secara luas oleh konstituen
. Pemimpin dari partai non-agama atau nasionalis akan tetap menampilkan gaya kepemimpinan yang religius, santun, dan dekat dengan simbol-simbol keislaman
.
Di sinilah keunikan demokrasi di Indonesia: Partai politiknya boleh jadi berbasis nasionalis, tetapi karakter dan figur pemimpin yang dilahirkan tetap merepresentasikan identitas mayoritas masyarakatnya
Catatan Penutup Kang Asep
Melihat dinamika politik kita hari ini lewat kacamata antropologi politik membuat kita lebih paham bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya sangat matang
Kita bisa membedakan mana agama sebagai identitas kultural dan mana politik sebagai alat mencapai kesejahteraan bersama
Bagaimana pandanganmu tentang fenomena ini? Menurutmu, apakah figur kepemimpinan seseorang lebih penting daripada label partai yang mengusungnya? Yuk, tulis pendapatmu di kolom komentar!


0 Komentar