Di artikel saya sebelumnya tentang Antropologi Media: Memahami Hubungan Manusia, Teknologi, dan Budaya Digital, saya menulis kalau media bukan cuma alat, tapi tempat di mana kebudayaan itu dibentuk dan dirawat.
Kalau begitu, sebelum ada ponsel pintar yang terasa seperti perpanjangan tubuh itu, media manusia itu apa? Jawabannya ada di hari ini. Setiap tanggal 9 Oktober, dunia memperingati Hari Pos Sedunia atau World Post Day.
Bagi saya yang baru 3 bulan merantau dan mengajar di Banda Aceh sebagai orang Sunda, tanggal ini mengingatkan saya pada memori lama yang hampir terlupakan.
lustrasi: Kenangan antri wesel pos tahun 2008 di Bandung, saat kirim uang masih lewat Kantor Pos.
(Gambar: Ilustrasi AI)
Kenangan Wesel Pos 2008: Bandung - Tasikmalaya
Tahun 2008, saya masih SMA. Waktu itu saya merantau sekolah di Bandung, sementara orang tua di Tasikmalaya. Zaman itu belum ada e-wallet, belum punya rekening bank, apalagi kartu ATM. Kalau orang tua mau kirim uang jajan, caranya cuma satu: lewat Kantor Pos dengan wesel pos.
Saya masih ingat jelas rasanya. Setiap tanggal tua, saya datang ke Kantor Pos di Bandung, antri panjang bersama banyak perantau lain. Petugasnya memanggil nama, lalu menyerahkan selembar kertas wesel dan uang tunai.
Uang 200 ribu itu rasanya besar sekali. Di amplop weselnya ada tulisan tangan Ibu: "Jang, sing rajin belajar." 5 tahun lalu ibu saya sudah wafat, alfatihah untuk almarhumah, semoga almarhumah ibu saya diberikan tempat terbaik di sisi-Nya, aamiin.
Itulah pelajaran Antropologi Media pertama saya, jauh sebelum saya kuliah antropologi di tahun 2015 dan diajarkan oleh Dr. Ira Indrawardhana tentang manusia sebagai Homo Faber - makhluk pembuat alat.
Manusia tidak bisa terbang, tapi bisa melebihi burung dengan alatnya. Manusia tidak bisa kirim uang lewat angin, maka dia ciptakan wesel pos. Kantor pos waktu itu bukan sekadar tempat kirim barang, tapi tempat penitipan rindu dan harapan orang tua.
Kenapa Harus 9 Oktober? Sejarah Singkat Pos Dunia
Hari Pos Sedunia bukan tanggal asal-asalan. Pada 9 Oktober 1874, di Bern, Swiss, 22 negara berkumpul dan menandatangani Treaty of Bern. Mereka sepakat membentuk General Postal Union, yang tahun 1878 berganti nama menjadi Universal Postal Union (UPU).
Sebelum ada UPU, kirim surat lintas negara itu sangat rumit. Beda aturan, beda perangko, beda ongkos. Dengan adanya UPU, semua diseragamkan agar komunikasi antar bangsa lebih mudah.
Lalu pada Kongres UPU di Tokyo, Jepang tahun 1969, tanggal 9 Oktober ditetapkan resmi sebagai Hari Pos Sedunia. Tujuannya untuk mengingatkan dunia tentang peran penting layanan pos dalam menghubungkan manusia.
Jadi kalau media sosial adalah evolusi tercepat, maka wesel pos 2008 yang saya alami itu adalah salah satu fondasinya.
Melihat Kantor Pos Pakai Tiga Kacamata Antropologi Media
Di artikel Antropologi Media sebelumnya saya sudah bahas tiga pendekatan dari McNair. Mari kita pakai untuk membedah kenangan wesel pos tadi.
1. Kacamata Ekonomi-Politik
Dulu, yang menentukan bisa tidaknya uang sampai adalah negara lewat PT Pos. Sekarang, siapa yang punya modal dan aplikasi, dia yang menguasai. Dulu kita antri wesel pos, sekarang kita cek notifikasi "saldo OVO masuk". Isi media berubah karena yang punya kuasa ekonomi berubah.
2. Kacamata Organisasi
Budaya kerja kantor pos dulu sangat personal. Petugas hafal wajah perantau, hafal nama orang tua di kampung. Ada etos "uang rakyat harus sampai". Itu adalah budaya organisasi yang diwariskan sejak 1874. Beda dengan notifikasi transfer bank sekarang yang otomatis dan tanpa interaksi manusia.
3. Kacamata Kulturalis (Ini yang Paling Penting)
Ini yang disebut Stuart Hall sebagai representasi, yaitu bagaimana kita memberi makna pada dunia lewat simbol.
Dulu, representasi dari kirim uang adalah perjuangan, kesabaran, dan kepercayaan. Harus jalan kaki ke kantor pos, antri, bawa KTP, tanda tangan. Sekarang representasinya adalah kecepatan dan kepraktisan. Tinggal klik.
Prangko dan kertas wesel adalah artefak budaya. Di kertas itu ada cap pos, ada tulisan tangan, ada doa. Itu adalah budaya material yang sekarang hilang, diganti screenshot bukti transfer.
Pos Tidak Mati, Hanya Berganti Wajah
Sekarang saya sudah di Aceh, baru 3 bulan. Kalau kangen Tasikmalaya, saya tinggal video call. Tidak perlu lagi menunggu 10 hari seperti dulu.
Tapi apakah pos mati? Tidak. Di sini di Banda Aceh, kantor pos masih ada. Masih jadi tempat pengiriman surat, bayar listrik, dan kirim paket ke kampung. Fungsinya bergeser dari pengirim uang dan rindu menjadi penghubung ekonomi.
Seperti yang saya tulis di artikel Antropologi Media, media akan terus berkembang dari dinding gua sampai AI. Tapi satu hal tidak berubah: selama manusia butuh terhubung, di situ kebudayaan akan terus bernapas.
Hari Pos Sedunia hari ini mengingatkan saya pada kertas wesel tahun 2008 itu. Bahwa saya pernah menjadi bagian dari budaya mengantri, menunggu, dan menghargai selembar kertas.
Kapan terakhir kali kamu ke kantor pos?
Selamat Hari Pos Sedunia.


0 Komentar