Antropologi Media: Memahami Hubungan Manusia, Teknologi, dan Budaya Digital

Ilustrasi futuristik dan hangat yang memperlihatkan evolusi alat media manusia, dari lukisan batu purba, mesin cetak tua, televisi retro, hingga manusia modern yang memegang smartphone dengan pancaran proyeksi hologram simbol-simbol budaya digital.

    Pernahkah kamu berpikir kenapa ponsel pintar yang kita pegang hari ini terasa seperti perpanjangan dari organ tubuh kita sendiri? Atau kenapa sebuah tren video pendek di TikTok bisa mengubah pola konsumsi dan gaya hidup jutaan orang dalam hitungan hari?

    Sebagai seseorang dengan latar belakang Antropologi, saya selalu terpesona melihat bagaimana manusia berinteraksi dengan alat-alat yang ditemukannya. Sewaktu membuka-buka kembali catatan kuliah tahun 2015 dulu, saya menemukan satu benang merah yang sangat relevan untuk realitas digital kita hari ini: Antropologi Media.

    Di zaman sekarang, media sering kali hanya dipandang sebagai alat (tool) teknis komunikasi atau instrumen bisnis semata. Padahal, dari kacamata antropologi, media adalah tempat di mana kebudayaan dibentuk, dirawat, dipertukarkan, sekaligus diubah.

Dari Homo Faber Hingga Layar Ponsel: Media Sebagai Perpanjangan Manusia

    Dalam salah satu kuliah Antropologi Media pada September 2015, dosen saya (Dr. Indrawardhana) pernah menyampaikan sebuah kutipan yang sangat membekas;

"Manusia tidak bisa terbang karena tidak memiliki sayap, namun bisa lebih dari burung. Manusia tidak bisa berenang seperti ikan karena tidak memiliki sirip, namun bisa menyelam lebih dari ikan dengan alatnya. Manusia tidak bisa melihat setajam elang, namun bisa menciptakan alat yang memiliki kemampuan melebihi mata elang."

    Prinsip ini berakar dari konsep manusia sebagai Homo Faber—makhluk yang menciptakan dan menggunakan alat untuk bertahan hidup.

    Dulu, media manusia adalah batu dan dinding gua. Lalu berkembang menjadi serat kayu, daun, hingga kertas dan mesin cetak buatan Gutenberg pada tahun 1440. Di abad modern dan digital, media menjelma menjadi sinyal radio, televisi, internet, dan algoritma media sosial.

    Artinya apa? Media adalah cermin peradaban. Media bukan sekadar saluran tempat kita mengirim pesan, melainkan sarana yang membentuk status sosial, gaya hidup, hingga cara kita memandang dunia (worldview).

Tiga Kacamata Melihat Media: Ekonomi, Organisasi, dan Kultural

    Dalam dunia akademik, kajian antropologi media juga bersinggungan dengan kajian media (media studies). Untuk memahami bagaimana sebuah konten atau berita sampai ke layar kaca dan layar ponsel kita, ada tiga pendekatan utama yang diajarkan oleh McNair:

  1. Pendekatan Ekonomi-Politik: Isi media ditentukan oleh kekuatan modal, pemilik media, dan kepentingan ekonomi. Faktor luar ini yang menentukan berita apa yang boleh tayang dan ke arah mana framing media diarahkan.

  2. Pendekatan Organisasi: Berita atau konten adalah hasil kerja ruang redaksi. Budaya kerja, etika profesionalisme, dan aturan internal organisasi media menjadi variabel utama yang membentuk isi pesan.

  3. Pendekatan Kulturalis (Kultural): Menggabungkan kacamata politik-ekonomi dengan realitas budaya. Pendekatan ini melihat bagaimana media memproduksi makna dan menjadi arena "pertarungan ideologi".

    Di era media sosial saat ini, pendekatan kulturalis terasa sangat kuat. Media tidak lagi objektif atau netral, melainkan menjadi tempat munculnya berbagai makna dari interaksi sosial sehari-hari.

Representasi Budaya: Bagaimana Media Membentuk Reality Kita?

    Salah satu teori inti dalam Antropologi Media yang sangat saya sukai adalah konsep Representasi dari Stuart Hall.

    Menurut Stuart Hall, culture is the way we make sense, give meaning to the world. Kebudayaan adalah cara kita memberi arti pada dunia. Nah, representasi adalah proses bagaimana konsep dalam pikiran kita diwujudkan melalui bahasa dan simbol—baik berupa kata-kata, teks, maupun gambar bergerak (visual).

    Representasi dalam media memicu dua hal menarik yang sering kita temui di kehidupan sehari-hari:

1. Tubuh Perempuan dan Konstruksi Sensualitas

    Dalam catatan kajian media dan studi feminis, tubuh perempuan di media massa kerap kali dikonstruksikan dan didefinisikan secara subjektif. Media dan industri hiburan sering kali mengeksploitasi sensualitas demi kepentingan komersial, yang kemudian membentuk standar kecantikan atau kepantasan yang bias.

2. Fenomena Dangdut Koplo dan Budaya Populer

    Bagaimana anak-anak, remaja, hingga ibu-ibu memandang adegan musik dangdut koplo Pantura? Dari kacamata antropologi, ini bukan sekadar persoalan "suka atau tidak suka musiknya", melainkan tentang bagaimana media merepresentasikan hiburan rakyat, sensualitas, dan bagaimana norma lokal merespons ekspresi budaya tersebut.

Kenapa Antropologi Media Penting untuk Kita Hari Ini?

    Belajar antropologi media mengajarkan kita untuk tidak menjadi konsumen media yang pasif.

    Ketika kita melihat tren di TikTok, iklan di Instagram, atau berita viral di media massa, kita belajar untuk bertanya:

  • Siapa yang memproduksi pesan ini?

  • Makna budaya apa yang sedang dicoba dikonstruksikan?

  • Bagaimana simbol-simbol ini memengaruhi perilaku kita di dunia nyata?

    Media akan terus berkembang—mulai dari lukisan dinding gua, cetakan kertas, televisi, hingga kecerdasan buatan (AI) dan metaverse. Namun satu hal yang tidak berubah: selama manusia menggunakan media, di situ pulalah kebudayaan terus bernapas dan bertransformasi.

    Bagaimana menurutmu? Apakah kamu merasa media sosial yang kamu pakai saat ini sudah mengubah caramu berpikir dan berbudaya? Yuk, diskusi di kolom komentar!

Daftar Pustaka / Catatan Referensi:

  • Coman, Mihai. Journal of Media Anthropology.

  • Hall, Stuart. (2003). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices.

  • Catatan Perkuliahan Antropologi Media (2015), Materi Dosen: Dr. Indrawardhana.

Posting Komentar

0 Komentar