Kenapa Ada Tradisi 7 Hari sampai 100 Hari Kematian di Jawa? Membedah "Politik Simbolisme" Lewat Kacamata Antropologi

    Pernahkah kamu bertanya-tanya, kenapa di masyarakat Jawa ada tradisi memperingati kematian kerabat mulai dari hari ke-7, 14, 21, 40, hingga 100 hari? Kenapa tradisi yang berakar dari kebiasaan zaman dulu ini masih tetap bertahan hingga hari ini dan diisi dengan doa-doa keislaman?

Suasana hangat warga desa di Jawa sedang duduk melingkar dalam acara selamatan/tahlilan malam hari

    Sewaktu membongkar file-file lama di komputer, saya menemukan satu catatan tugas kuliah Antropologi Politik semasa kuliah di FISIP Unpad dulu. Catatan itu mendiskusikan pemikiran sejarawan M.C. Ricklefs, Budhi Munawar-Rachman, dan etnograf legendaris Clifford Geertz tentang dinamika Islam di Pulau Jawa.

    Jujur saja, kalau kita mendengar istilah "Antropologi Politik", yang terbayang di kepala sering kali adalah hal-hal berat seperti pemilu atau perebutan kursi kekuasaan. Padahal dalam antropologi, politik tidak melulu soal partai. Politik adalah tentang bagaimana manusia mengelola identitas, menyiasati perbedaan, dan bertahan agar diterima dalam lingkungan sosialnya.

    Mari kita bedah bagaimana politik identitas dan simbolisme itu bekerja di balik tradisi harian masyarakat kita!

Sintesis Mistik dan Teori Difusi Islam di Jawa

    Sejarah mencatat bahwa sebelum Islam masuk, masyarakat Nusantara, khususnya di Jawa sudah memiliki akar kebudayaan yang sangat kuat berbasis Hindu, Buddha, serta kepercayaan lokal (animisme-dinamisme).

    Lalu, bagaimana Islam bisa masuk dan diterima dengan begitu masif?

    Sejarawan M.C. Ricklefs menyebut fenomena ini sebagai Sintesis Mistik. Artinya, perpaduan antara mistisisme Islam dengan budaya lokal Jawa yang ditandai oleh tiga hal utama:

  1. Kuatnya rasa identitas keislaman di tengah masyarakat Jawa.

  2. Dijalankannya rukun Islam secara meluas.

  3. Masih diakuinya keberadaan entitas atau roh halus lokal (seperti kepercayaan pada Nyi Roro Kidul).

    Dari sudut pandang antropologi, proses masuknya Islam di Jawa ini sangat cocok dibaca dengan Teori Difusi (Elliot Smith). Islam menyebar karena adanya migrasi dan interaksi dengan pedagang dari luar (Arab, Gujarat, Persia). Proses ini terjadi secara bertahap lewat akulturasi budaya, bukan karena paksaan atau oligarki pemodal semata.

Mengubah Mantra Jadi Doa: Akulturasi Tradisi Jawa

    Karena budaya lokal sudah mengakar kuat, masyarakat pribumi zaman dulu tidak serta-merta meninggalkan kebiasaannya. Di sinilah terjadi proses kompromi budaya yang sangat cantik.

Contoh sederhana yang sering kita temui:

  • Ritus Kehamilan (7 Bulanan/Tingkeban)

  • Ritus Kematian (Peringatan 7, 14, 21, hingga 100 hari)

    Dahulu, ritual-ritual tersebut diisi dengan sesajen dan mantra-mantra lama. Namun ketika Islam masuk, bentuk ritualnya dipertahankan, sementara proses dan isinya diubah (di-akulturasi): mantra diganti dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, tahlil, dan doa-doa keselamatan.

    Lama-kelamaan, tradisi yang diwarnai nilai Islam ini menjadi arus utama (mainstream).

"Politik Simbolisme" Clifford Geertz dan Kelompok Abangan

    Nah, di sinilah letak analisis Antropologi Politik-nya!

    Ketika Islam sudah menjadi identitas mayoritas dan norma dominan di lingkungan sosial, muncullah fenomena menarik. Ada sebagian orang yang sebenarnya belum sepenuhnya menjalankan syariat atau belum masuk Islam atas dasar keyakinan personal yang mendalam, tetapi mereka tetap ikut serta dalam acara-acara keagamaan masyarakat. Kenapa?

    Clifford Geertz menyebut fenomena ini sebagai bagian dari The Politics of Symbolism (Politik Simbolisme).

    Politik simbolisme adalah tindakan seseorang untuk merepresentasikan dirinya lewat simbol-simbol sosial agar selaras dengan realitas mayoritas di sekitarnya. Orang-orang yang terkesan "ikut-ikutan" kegiatan islami ini, yang dalam kategori sosial sering disebut kelompok abangan atau sekadar "Islam KTP", melakukannya sebagai bentuk adaptasi sosial.

    Apakah mereka melakukannya dengan ikhlas atau sekadar strategi politik identitas agar tidak dikucilkan dan tetap diterima oleh tetangga serta lingkungan sosialnya? Di situlah simbolisme bekerja.

Rekonsiliasi Politik: Dari Mataram Kuno ke Mataram Islam

    Politik identitas ini tidak hanya terjadi di level masyarakat bawah, tetapi juga di tingkat penguasa.

    Dalam sejarah Jawa, pernah terjadi ketegangan antara pihak keraton (istana) dengan masyarakat umum yang semakin banyak memeluk Islam. Puncak rekonsiliasi politik ini baru terjadi pada masa Sultan Agung (1613–1646).

    Sultan Agung dengan cerdas mengawinkan kalender Hijriah dengan kalender Saka Jawa, serta memadukan tradisi keraton dengan syariat Islam. Langkah politis ini diambil untuk menyatukan identitas keraton dengan identitas rakyatnya yang sudah mayoritas Muslim.

Catatan Penutup Kang Asep

    Melihat catatan kuliah tahun 2012 silam membuat saya sadar bahwa tradisi seperti peringatan 7 hari hingga 100 hari kematian sebenarnya punya akar sejarah dan dinamika politik kebudayaan yang panjang.

    Antropologi politik mengajarkan kita untuk tidak gampang menghakimi atau memberi label pada orang lain. Apa yang sering kita anggap sebagai "sekadar tradisi" ternyata merupakan strategi kebudayaan manusia untuk merawat kedamaian, menjaga persatuan, dan bertahan hidup di tengah masyarakatnya.

    Bagaimana di daerah atau lingkungan tempat tinggalmu? Apakah masih ada tradisi selamatan kematian atau tahlilan seperti ini? Yuk, cerita di kolom komentar!

Posting Komentar

0 Komentar