Ada masa ketika saya dan empat orang teman tidak hanya sibuk dengan kuliah dan tugas-tugas kampus. Kami mencoba keluar dari ruang kelas dan melihat langsung bagaimana masyarakat menyelesaikan persoalan hidup dengan pengetahuan yang mereka miliki.
Saat itu, kami mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Penelitian Sosial Humaniora.
Sebagai mahasiswa Antropologi, kami tertarik pada sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana: bagaimana masyarakat menyimpan padi?
Pertanyaan itu membawa kami kepada masyarakat adat Baduy.
Penelitian kami kemudian mengambil judul “Teknologi Leuit Baduy: Lumbung Padi Tahan Hama dan Busuk.” Tujuan penelitian kami adalah memahami teknologi leuit dari sisi tata bangunan serta cara masyarakat Baduy memelihara dan menyimpan padi di dalamnya. Untuk melihatnya, kami menggunakan pendekatan etnografi dan analisis agroekosistem.
Saat itu kami mungkin hanya melihatnya sebagai sebuah penelitian mahasiswa.
Tetapi setelah bertahun-tahun berlalu, saya melihat pengalaman tersebut dengan cara yang berbeda.
Saya semakin menyadari bahwa apa yang kami temukan di Baduy bukan sekadar bangunan tempat menyimpan padi.
Leuit adalah sebuah bentuk pengetahuan.
Pengetahuan yang lahir dari pengalaman masyarakat berinteraksi dengan alam selama bertahun-tahun.
Pertanyaan Sederhana: Bagaimana Padi bisa Bertahan Begitu Lama?
Indonesia memiliki kebutuhan beras yang tinggi.
Di sisi lain, kehilangan hasil setelah panen juga menjadi persoalan. Karena itulah kami mulai tertarik pada masyarakat adat Baduy yang memiliki sistem penyimpanan padi dalam sebuah bangunan yang disebut leuit.
Pertanyaan kami kemudian menjadi lebih spesifik:
"Apa yang membuat leuit mampu menyimpan padi dalam waktu yang sangat lama dan tetap terlindungi dari hama serta kerusakan"?
Pertanyaan tersebut terdengar sederhana.
Tetapi untuk menjawabnya, kami harus melihat leuit bukan hanya sebagai bangunan.
Kami perlu melihat bahan yang digunakan.
Cara pembangunannya.
Letaknya.
Cara padi disimpan.
Lingkungan di sekitar leuit.
Bahkan kebiasaan dan pengetahuan masyarakat yang berkaitan dengan penyimpanan padi.
Memulai Penelitian dari Kaduketug 3
Penelitian kami dilakukan di Kampung Kaduketug 3, salah satu kampung di Baduy Luar.
Pada saat penelitian, hasil transek kami mencatat terdapat 111 rumah dan 208 bangunan leuit di kampung tersebut. Lokasinya merupakan salah satu kampung terluar ketiga dari pasar dan terminal Ciboleger, dengan perjalanan berjalan kaki sekitar 15–20 menit.
Bagi kami sebagai mahasiswa, memasuki lingkungan masyarakat adat bukan sekadar datang kemudian mengambil data.
Kami harus terlebih dahulu memperkenalkan diri kepada masyarakat dan kepala adat atau Jaro.
Ini menjadi salah satu pelajaran penting dalam penelitian lapangan.
Pengetahuan tidak selalu bisa diperoleh hanya dengan membawa daftar pertanyaan.
Kadang-kadang kita harus terlebih dahulu membangun kepercayaan.
Karena itu, pendekatan etnografi menjadi penting dalam penelitian kami.
Apa sebenarnya leuit itu?
Secara sederhana, leuit adalah lumbung padi masyarakat Baduy.
Bentuknya menyerupai rumah panggung, tetapi ukurannya lebih kecil. Leuit tidak memiliki jendela dan hanya mempunyai satu pintu yang digunakan untuk memasukkan dan mengeluarkan padi.
Dalam penelitian kami, kami menemukan tiga jenis leuit:
- Leuit Lenggang
- Leuit Karumbung
- Leuit Mandiri
Sekilas, leuit mungkin terlihat sederhana.
Tidak ada mesin.
Tidak ada teknologi digital.
Tidak ada alat pengatur suhu seperti yang mungkin kita bayangkan dalam sistem penyimpanan modern.
Tetapi justru di situlah menariknya.
Kesederhanaan bukan berarti tidak memiliki teknologi.
Teknologi yang Lahir dari Alam
Ketika melihat konstruksi leuit lebih dekat, kami menemukan bahwa masyarakat menggunakan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan mereka.
Kayu digunakan sebagai bagian utama bangunan. Kayu yang digunakan merupakan bagian galih, yaitu bagian dalam kayu yang keras dan dianggap memiliki kualitas baik.
Bambu jenis mayan dan apus digunakan untuk bagian dinding atau bilik dan lantai yang disebut palupuh.
Untuk atap digunakan daun kirai yang dianyam, kemudian dilapisi ijuk pada bagian atas dan persendian.
Sementara itu, batu digunakan sebagai pondasi agar kaki leuit tidak bersentuhan langsung dengan tanah.
Jika kita melihatnya satu per satu, semua tampak sederhana.
Kayu.
Bambu.
Daun kirai.
Ijuk.
Batu.
Tetapi ketika semuanya ditempatkan dengan fungsi masing-masing, terbentuklah sebuah sistem penyimpanan yang telah digunakan oleh masyarakat.
Inilah yang membuat saya mulai melihat leuit sebagai sebuah teknologi.
Mengapa leuit tidak mudah diserang rayap?
Salah satu pertanyaan yang kami coba jawab adalah mengenai ketahanan konstruksi leuit.
Bagaimana bangunan yang sebagian besar menggunakan kayu dapat bertahan dari serangan rayap?
Kami menemukan beberapa hal menarik.
Kayu bagian galih yang digunakan sebelumnya direndam dalam lumpur sehingga menjadi lebih kuat dan mengeluarkan bau yang tidak disukai serangga.
Kemudian kaki leuit tidak langsung menyentuh tanah karena menggunakan pondasi batu.
Pada bagian persendian antarbahan juga digunakan ijuk yang berfungsi sebagai penghalau rayap.
Tidak ada bahan kimia modern.
Tidak ada teknologi pengendali hama yang rumit.
Tetapi masyarakat memiliki cara sendiri untuk menghadapi masalah tersebut.
Dan cara itu lahir dari pengalaman.
Bukan hanya Bangunannya, tetapi Seluruh Lingkungan
Semakin jauh kami mengamati, semakin jelas bahwa ketahanan leuit tidak hanya ditentukan oleh bentuk bangunannya.
Ada hubungan antara leuit dan lingkungan di sekitarnya.
Dalam analisis agroekosistem, kami melihat beberapa cara yang berkaitan dengan ketahanan padi terhadap hama tikus, serangga, dan jamur.
Untuk menghadapi tikus, misalnya, penelitian kami mencatat beberapa faktor seperti:
- peletakan leuit,
- konservasi lingkungan,
- penggunaan glebeg.
Sementara untuk hama serangga terdapat beberapa praktik seperti:
- padi disimpan dalam bentuk gabah,
- menjaga musuh alami,
- ritual,
- serta pemilihan waktu penyimpanan.
Untuk mencegah kerusakan akibat jamur, penyimpanan dalam bentuk padi serta kondisi temperatur dan kelembapan juga menjadi bagian dari sistem.
Dalam pengamatan kami, temperatur rata-rata tercatat sekitar 21°C dan kelembapan sekitar 75%.
Dari sini saya mulai memahami bahwa leuit bukan sekadar sebuah bangunan.
Leuit adalah sebuah sistem yang berhubungan dengan manusia, bahan bangunan, padi, hewan, udara, lingkungan, dan pengetahuan lokal.
Ada hal yang menarik ketika kita berbicara tentang teknologi.
Kita sering membayangkan teknologi sebagai sesuatu yang modern.
Komputer.
Internet.
Robot.
Artificial intelligence.
Mesin.
Padahal, jika teknologi kita pahami sebagai cara manusia menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan, maka leuit juga merupakan teknologi.
Masyarakat Baduy menghadapi persoalan yang sangat nyata:
Bagaimana menyimpan hasil panen agar dapat bertahan dan tidak mudah rusak?
Mereka kemudian memiliki cara.
Mereka memilih bahan.
Mereka menentukan bentuk bangunan.
Mereka menentukan posisi.
Mereka memperhatikan lingkungan.
Mereka menentukan bagaimana padi disimpan.
Dan pengetahuan itu diwariskan.
Bagi saya sebagai mahasiswa antropologi, hal tersebut merupakan bagian paling menarik dari penelitian ini.
Sebuah masyarakat dapat memiliki teknologi tanpa harus menyebut dirinya sedang membuat teknologi.
Belajar dari masyarakat, bukan hanya tentang masyarakat
Penelitian lapangan juga mengajarkan kami sesuatu yang tidak selalu bisa diperoleh dari buku.
Tidak semua orang yang memiliki pengetahuan lokal tinggi akan langsung terbuka kepada peneliti.
Kami mengalami kendala dalam menemukan informan yang memiliki pengetahuan mendalam tetapi tidak mudah membuka diri. Karena itu, kami melakukan pendekatan personal melalui tetua adat dan menggunakan metode etnografi.
Bagi saya, ini adalah salah satu pelajaran penting menjadi seorang antropolog.
Penelitian tentang manusia membutuhkan hubungan dengan manusia.
Kita tidak bisa hanya datang membawa pertanyaan lalu berharap semua jawaban akan diberikan.
Kita harus belajar menghargai masyarakat yang sedang kita pelajari.
Kita harus bersedia mendengarkan.
Dan terkadang, kita harus lebih banyak diam daripada berbicara.
Dari leuit saya belajar tentang pengetahuan lokal
Bertahun-tahun setelah penelitian itu dilakukan, saya semakin sering berpikir tentang satu hal:
Berapa banyak pengetahuan lokal di Indonesia yang sebenarnya belum kita pahami dengan baik?
Indonesia memiliki begitu banyak masyarakat dengan cara masing-masing dalam mengelola lingkungan dan memenuhi kebutuhan hidup.
Leuit Baduy hanyalah salah satu contoh.
Tulisan penelitian kami bahkan mencatat bahwa leuit merupakan salah satu bentuk teknologi adat dalam keragaman cara masyarakat Indonesia menyimpan padi. Penelitian tersebut juga melihat potensi pengetahuan lokal ini sebagai sesuatu yang layak didalami lebih lanjut, terutama ketika persoalan penyimpanan hasil pertanian masih menjadi tantangan.
Bagi saya, inilah alasan mengapa antropologi tetap penting.
Antropologi mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru menganggap pengetahuan modern selalu lebih baik daripada pengetahuan lama.
Terkadang, sebelum mengatakan bahwa sesuatu itu sederhana atau tradisional, kita perlu bertanya:
"Mengapa masyarakat memilih cara tersebut"?
Mungkin di balik kesederhanaannya terdapat pengalaman yang sudah berlangsung selama puluhan atau bahkan ratusan tahun.
Ketika Saya Membaca Kembali Penelitian ini
Saat menjadi mahasiswa, saya mungkin lebih sibuk memikirkan bagaimana penelitian ini selesai.
Bagaimana data dikumpulkan.
Bagaimana presentasi dibuat.
Bagaimana hasil penelitian disampaikan.
Tetapi sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, saya melihatnya sebagai pengalaman belajar yang berbeda.
Saya belajar bahwa teknologi tidak selalu berbentuk benda yang rumit.
Saya belajar bahwa masyarakat memiliki pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang.
Saya belajar bahwa alam bukan sekadar tempat mengambil sumber daya, tetapi bagian dari kehidupan yang harus dipahami.
Dan sebagai seorang yang belajar antropologi, saya belajar bahwa memahami manusia berarti bersedia melihat dunia dari cara pandang mereka.
Leuit mengajarkan saya sesuatu yang sederhana:
Kadang-kadang kecerdasan manusia tidak terlihat dari seberapa modern alat yang digunakan, tetapi dari seberapa baik manusia memahami lingkungannya.
Penutup
Saya dan empat teman pernah datang ke Baduy sebagai mahasiswa yang membawa sebuah pertanyaan tentang lumbung padi.
Kami ingin mengetahui bagaimana leuit dapat membantu menyimpan padi dan melindunginya dari hama serta kerusakan.
Tetapi perjalanan penelitian itu akhirnya memberikan lebih dari sekadar jawaban tentang sebuah bangunan.
Kami menemukan sebuah bentuk teknologi yang lahir dari lingkungan, pengalaman, kebiasaan, dan pengetahuan masyarakat.
Hari ini, ketika saya mengingat kembali penelitian tersebut, saya tidak hanya mengingat leuit.
Saya mengingat perjalanan menjadi seorang mahasiswa antropologi yang belajar bahwa untuk memahami sebuah masyarakat, kita harus bersedia mendekat, mengamati, mendengarkan, dan belajar dari apa yang mereka lakukan.
Mungkin itulah salah satu pelajaran paling berharga dari penelitian lapangan:
kita datang untuk melakukan penelitian, tetapi sering kali justru pulang membawa pelajaran tentang kehidupan.







0 Komentar